FASIES GUNUNG API DAN APLIKASINYA
SUTIKNO BRONTO
Di Indonesia, gunung api
dan hasil kegiatannya yang berupa batuan gunung api tersebar melimpah baik di
darat maupun di laut. Berdasarkan umur geologi, kegiatan gunung api di
Indonesia paling tidak sudah dimulai sejak Zaman Kapur atau sekitar 76 juta
tahun yang lalu hingga masa kini.
1. PEMBAGIAN FASIES GUNUNG API
Secara bentang alam,
gunung api yang berbentuk kerucut dapat dibagi menjadi daerah puncak, lereng,
kaki, dan dataran di sekelilingnya. untuk membagi sebuah kerucut gunung api
komposit menjadi 3 zone, yakni Central Zone, Proximal Zone, dan Distal Zone.
Central Zone disetarakan dengan daerah puncak kerucut gunung api, Proximal Zone
sebanding dengan daerah lereng gunung api, dan Distal Zone sama dengan daerah
kaki serta dataran di sekeliling gunung api. Sesuai dengan batasan fasies
gunung api, yakni sejumlah ciri litologi (fisika dan kimia) batuan gunung api
pada suatu lokasi tertentu, maka masing-masing fasies gunung api tersebut dapat
diidentifikasi berdasarkan data:
1.
inderaja dan geomorfologi,
2.
stratigrafi batuan gunung api,
3.
vulkanologi fisik,
4.
struktur geologi, serta
5.
petrologi-geokimia.
2. IDENTIFIKASI BERDASARKAN INDERAJA DAN GEOMORFOLOGI
Apabila suatu kerucut
gunung api di darat atau di atas muka air laut sudah tidak aktif lagi, maka
proses geomorfologi yang dominan adalah pelapukan dan erosi, terutama di daerah
puncak yang merupakan daerah timbulan tertinggi. Karena pengaruh litologi yang
beragam di daerah puncak, ada yang keras dan ada yang lunak, relief daerah
puncak menjadi sangat kasar, tersusun oleh bukit-bukit runcing di antara
lembah-lembah sungai yang terjal dan dalam. Sekalipun suatu kerucut gunung api
sudah tererosi cukup lanjut, bagian lereng biasanya masih memperlihatkan pola
sudut lereng yang melandai ke arah kaki dan berpasang-pasangan menghadap ke
arah bekas puncak. Kemiringan lereng bukit yang menghadap ke daerah bekas puncak
pada umumnya lebih terjal daripada kemiringan lereng yang menjauhi daerah
puncak
3. IDENTIFIKASI BERDASARKAN STRATIGRAFI BATUAN
GUNUNG API
Fasies sentral merupakan
bukaan keluarnya magma dari dalam bumi ke permukaan. Oleh sebab itu daerah ini
dicirikan oleh asosiasi batuan beku yang berupa kubah lava dan berbagai macam
batuan terobosan semi gunung api (subvolcanic intrusions) seperti halnya leher
gunung api (volcanic necks), sill, retas, dan kubah bawah permukaan
(cryptodomes).
Fasies proksimal
merupakan kawasan gunung api yang paling dekat dengan lokasi sumber atau fasies
pusat. Asosiasi batuan pada kerucut gunung api komposit sangat didominasi oleh
perselingan aliran lava dengan breksi piroklastika dan aglomerat
Sebagai daerah
pengendapan terjauh dari sumber, fasies distal didominasi oleh endapan rombakan
gunung api seperti halnya breksi lahar, breksi fluviatil, konglomerat,
batupasir, dan batulanau.
Pada pulau gunung api
ataupun gunung api bawah laut, di dalam fasies distal ini batuan gunung api
dapat berselang-seling dengan batuan nongunung api, seperti halnya batuan
karbonat.
4. IDENTIFIKASI BERDASARKAN VULKANOLOGI FISIK
Tekstur batuan klastika
gunung api menyangkut bentuk butir, ukuran butir, dan kemas. Karena efek abrasi
selama proses transportasi maka dari fasies proksimal ke fasies distal bentuk
butir berubah mulai dari sangat meruncing - meruncing sampai membundar - sangat
membundar. Ukuran butir juga berubah dari fraksi sangat kasar - kasar, sedang
sampai dengan halus - sangat halus. Struktur sedimen, seperti struktur
imbrikasi, silangsiur, antidunes, dan gores-garis sebagai akibat terlanda
seruakan piroklastika (pyroclastic surges) juga dapat membantu menentukan arah
sumber dan sedimentasi. Endapan aliran gravitasi tersebut biasanya mengalir
mengikuti lembah sungai lama, mulai dari daerah puncak sampai lereng bawah,
sementara itu dari kaki hingga dataran endapan tersebut dapat menyebar
membentuk kipas.
5.
IDENTIFIKASI BERDASARKAN
STRUKTUR GEOLOGI
Lereng kerucut gunung api
komposit yang semakin terjal ke arah puncak atau semakin landai ke arah kaki
disebabkan oleh proses penumpukan bahan erupsi gunung api itu sendiri. Semakin
jauh dari sumber erupsi atau kawah tumpukan bahan erupsi semakin tipis sehingga
membentuk lereng yang semakin landai. fasies pusat dan fasies proksimal
struktur geologi yang berkembang adalah sesar normal berpola radier, di fasies
medial terbentuk sesar miring sampai sesar geser yang juga berpola radier.
Sementara itu di fasies distal dapat terjadi sesar naik dan struktur perlipatan
yang berpola konsentris. Penggembungan lereng gunung api sebagai akibat daya
dorong magma ke atas itu disebut infl asi. Sebaliknya, apabila magma mendingin
atau membeku sehingga volumenya mengecil, atau magma bergerak kembali ke bawah
sehingga lereng gunung api mengkerut, maka deformasi batuan gunung api ini
disebut deflasi.
6.
IDENTIFIKASI BERDASARKAN
PETROLOGI-GEOKIMIA
Berdasarkan pandangan
geologi sedimenter selama ini terdapat dua proses yang berbeda dan pada umur
yang berbeda pula.
Proses pertama adalah
sedimentasi batuan gunung api di dalam suatu cekungan pengendapan, dimana
sumber asal batuan tidak diketahui atau tidak dipersoalkan. Proses kedua adalah
pembentukan magma di bawah cekungan pengendapan tersebut yang bergerak ke atas,
sehingga menerobos perlapisan batuan sedimen gunung api di atasnya.Keragaman
komposisi sebagai akibat proses diferensiasi, misalnya terbentuk basal, andesit
basal, andesit, dan dasit, dapat saja terjadi, tetapi semuanya berasal dari
magma induk yang sama. Apabila di dalam dapur magma gunung api terjadi
percampuran dua magma yang berbeda sumber, maka hal inipun masih dapat
teridentifi kasi baik di dalam batuan intrusi maupun batuan ekstrusi.
7.
APLIKASI DI BIDANG MINERAL
Interaksi antara gas
asam, unsur logam, dan pancaran panas dari magma dengan air meteorik di dalam
konduit gunung api membentuk fl uida hidrotermal yang pada akhirnya menghasilkan
batuan ubahan dan mineralisasi. Konduit atau istilah lain diatrema, vent dan
korok gunung api terletak di bawah kawah dan di atas dapur magma.
Sebagai contoh batuan
gunung api di daerah Bayah, Formasi Cikotok berumur Paleogen, Tuf Citorek
berumur Neogen dan di sekelilingnya terdapat batuan gunung api Kuarter
8.
APLIKASI DI BIDANG LINGKUNGAN
DAN KEBENCANAAN
Wilayah fasies sentral
dan proksimal seyogyanya dilestarikan sebagai daerah tangkapan dan resapan air
hujan, sedangkan pemanfaatan air tanah dilakukan di fasies medial atau bahkan
di fasies distal.
Endapan yang dapat
menerus tersebar luas hanya jenis jatuhan piroklastika (tuf jatuhan), tetapi
karena endapan ini berada di lingkungan darat dimana proses erosi dan
sedimentasi silih berganti, maka hal tersebut menyebabkan tuf jatuhan itu juga
tidak dapat sepenuhnya menerus seperti endapan di lingkungan laut. Lebih dari itu,
endapan jatuhan piroklastika di lingkungan darat biasanya mempunyai jurus dan
kemiringan orisinal yang mengikuti topografi
sebelumnya, yakni melandai dari fasies proksimal ke fasies medial.
Di dalam fasies sentral
dan proksimal gunung api, jenis bahaya yang dapat terjadi adalah lontaran batu
pijar (bom/blok gunung api), hujan abu, gas beracun, awan panas (aliran
piroklastika), aliran lava, dan guguran kubah lava. Pada fasies medial jenis
bahaya gunung api adalah awan panas, hujan abu, aliran lahar, sedangkan bahaya
pada fasies distal berupa hujan abu, aliran lahar, dan banjir.
9.
PENGEMBANGAN KONSEP GEOLOGI
Pada umur Kapur - Awal
Eosen jalur magma berada di utara Jawa Barat dan daratan Jawa sekarang,
terutama daerah Cekungan Bogor merupakan cekungan busur depan. Dari Eosen Akhir
- Oligosen tidak ada proses magmatisme dan volkanisme di Jawa Barat.
Selanjutnya pada Miosen Awal jalur gunung api berada di selatan Jawa Barat. Busur
magma Eosen Akhir-Miosen Awal terdapat di bagian selatan Pulau Jawa, sedangkan
busur magma Miosen Akhir-Pliosen terletak di sebelah utaranya, berhimpitan
dengan busur magma Kuarter. Perpindahan titik erupsi gunung api di permukaan
tidak disebabkan oleh perubahan zone subduksi, tetapi mungkin karena dalam
pergerakannya ke permukaan magma hanya mencari tempat-tempat lemah untuk
dilalui. secara regional busur gunung api merupakan zone yang cukup lebar yang
mana di dalamnya terdapat beberapa kerucut gunung api dan di antaranya
terbentuk cekungan sedimentasi. Busur gunung api Tersier juga diperkirakan
merupakan zone yang melebar dari utara ke selatan.
Komentar
Posting Komentar